Monday, October 02, 2006

Special Ramadhan

Merespon permintaan sahabat mimosa, mengenai sentuhan bulan suci di perantauanku . Saya hanya bisa menyuguhkan serangkaian dari begitu sedikitnya yang saya ketahui. Momentum itu mulai terasa dari pusat perbelanjaan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Tempat transaksi ideal penjual pembeli ini, ditandai dengan umbul umbul Special Ramadhan. Serasa tanah air, barisan korma, anggur, rupa rupa manisan, dan makanan khas timur tengah di gelar di podium raksasa. Selain itu produsen makanan siap saji dan minuman ringan turut merebut pangsa. Dalam segmen mengugah selera, mereka menempatkan produk berlabel halal di tempat tempat stategis. Untuk menjamin kwalitas, banyak diantara dagangan itu datang dari negeri aslinya.



Photobucket - Video and Image Hosting



Tidak seperti Indonesia, dimana umumnya seluruh televisi berselimut tajuk religi. Di sini cenderung muncul dalam sisip berita. Dari seluruh penjuru, disunting intisari para jemaah sholat berjemaah, dilanjutkan berbuka bersama. Melengkapi ngabuburit, sebuah saluran menyuguhkan film dokumenter seri pengetahuan berirama padang pasir. Kali itu pemirsa diajak menyibak rahasia punggung onta memanggul berat, menyerap oase, lintas sahara. Juga ragam tradisi negara setempat menjelang hari raya. Pastilah cerita yang diangkat berbeda beda, saya cuma menyimak sekilas.

Di jalanan, awal oktober berlangsung lenggang. Tersapu angin kencang, mendung, atau rintik rinai. Pudar ramah alam, seiring jatuhnya musim gugur .

Ini merupakan tantangan tersendiri,
Bagi mereka yang menjalani,
Menjawab perintah ilahi,
Menahan lapar dahaga,
Hingga sempurnalah panggilan agama.

Tabuh bedug serupa desau angin ,
Menghempas pergi hari
Tak kutemui ketupat, rendang, opor ayam
Atau tetangga datang mengucap salam
Cuma kesibukkan pasar
Menjajakan berbagai keperluan
Itupun karena tuntutan

Hening menyekat hati
Segumpal kenangan menari
Rindu pita suara bocah
Memuji tak ada hentinya
Allah maha besar…
Allah maha besar…

Dan…
hatikupun diajak bersimphoni
Nyanyian seorang pengembara
Untuk kalian semua
Resapilah senandungku
Jangan engkau memandang siapa diriku

Semoga semua dari kita memperoleh rahmat dan hidayah dalam menjalankan kenyakinan kita masing masing. Amin.
-------------------------------------------------
Sungguh ku tak dapat mendorong keong berlari,
Padahal sudah kupapah ia ke tempat lebih tinggi,
Baru kujelang haluan,
Telah patah dahan menahan beban
Aku segera kembali ke awal.
Menyanggah ranting goyah
Bertahanlah...jangan berserakan
Aku ingin semua merasa nyaman
Terlebih, kuingin tidak berputus asa
Menanti saat leluasa
Berbalas kabar dengan sahabatku semua
Jadi...tetaplah tunggu disana.
------------------------------------------------------------

43 Comments :

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home